ENERGI DAHSYAT #2 Kisah Dua Katak Kecil

Suatu hari, ada dua katak kecil yang bermain bersama jauh meninggalkan sarang. Katak yang beranjak menuju usia dewasa tersebut melompat kesana kemari karena gembira dengan dunia luar yang baru mereka lihat. Ternyata, dunia jauh lebih indah dan luas dari sekedar lingkungan sarang si katak tempat mereka dibesarkan. Tanpa disadari, mereka berdua terpeleset dan terjatuh ke dalam kaleng yang berisi es krim. Mereka berdua berusaha melompat ke luar, namun es krim yang lengket dan ukutan kaleng yang cukup tinggi menghalangi usaha mereka.

 

Setelah beberapa menit berlalu, katak pertama akhirnya menyerah dan pasrah dengan keadaan yang ada. Katak pertama berkata : “Kita tidak akan berhasil, es krim ini terlalu lengket sehingga kita tidak bisa melompat. Sudahlah!!! Kita menyerah saja. Mungkin ini sudah akhir hidup kita.” Katak kedua berkata : “Jangan menyerah Saudaraku!!! Kita pasti bisa menyelamatkan diri dari kubangan es krim ini. Teruslah berenang dan berusaha!!!” Katak pertama tidak menghiraukan perkataan katak kedua. Dia pun mengucapkan selamat tinggal kepada katak kedua sehingga akhirnya dia mati tenggelam di kubangan es krim dalam kaleng.

Lain hal-nya dengan katak kedua, dia mempunyai pandangan dan sikap yang lain. Dia tetap optimis dan terus berenang. Dia yakin bahwa usaha yang dia lakukan akan mampu mengeluarkannya dari kubangan es krim dan menyelamatkan nyawanya. Setelah beberapa lama berselang, es krim tersebut mengeras dan akhirnya dia bisa melompat ke luar kaleng. Walhasil, selamatlah hidupnya.

Kisah dua katak kecil tadi setidaknya dapat memberi hikmah kepada kita. Setidaknya, berdasarkan cerita di atas, ada dua tipe orang di dunia ini, tipe optimis dan tipe pesimis. Orang yang bertipe pesimis akan senantiasa melihat dunia ini dengan kaca mata negatif. Dari sisi internal dirinya, dia memandang dirinya tidak mampu, tidak percaya diri, tidak berpengalaman, dan berbagai alasan negatif lainnya yang menghambat dirinya untuk maju. Seorang motivator, Faqih Syarif (2007) menyebutkan berbagai dalih yang menghambat seseorang untuk sukses, yaitu depresiasi diri, dalih kesehatan, dalih umur, dalih intelegensi dan dalih nasib. Depresiasi diri adalah cara pandang terhadap dirinya sendiri dengan paradigma negatif.

Selanjutnya, dari sisi eksternal dirinya, dia melihat setiap permasalahan dengan pandangan negatif. Di dunia kerja, kita sering dihadapkan pada persoalan sistem karier dan kebijakan promosi yang tidak obyektif, sikap atasan dan rekan kerja, situasi lingkungan kerja, keterbatasan fasilitas dan sebagainya. Bahkan, ada kalanya persoalan keluarga pun membuat semakin carut marutnya persoalan. Orang dengan tipe pesimis akan melihatnya sebagai persoalan seakan membuat dia susah, menghimpit dirinya dan tidak memberinya kesempatan untuk bisa berhasil. Padahal, cara pandang kita  terhadap permasalahan merupakan permasalahan itu sendiri.

Tipe orang yang kedua, tipe optimis, akan melihat segala sesuatunya dengan kaca mata yang positif. Dari sisi internal dirinya, dia memandang dirinya mampu, penuh percaya diri, cukup berpengalaman, dan berbagai alasan positif lainnya yang mendorong dirinya untuk maju, namun tetap rendah diri dan tidak sombong. Orang seperti ini akan terus membekali dirinya dengan terus belajar. Mengutip pernyataan Steve Jobs, “Keep Folish, Keep Hungry”, orang seperti ini akan senantiasa merasa bodoh dalam arti ilmu yang dimiliki seakan masih sangat kurang dan perlu ditambah, dan tetap merasa lapar dalam arti dia haus akan ilmu baru yang dapat meningkatkan kompetensi dirinya.

Dari sisi eksternal dirinya, dia melihat setiap permasalahan dengan pandangan positif. Patologi-patologi di dunia kerja, seperti persoalan sistem karier dan kebijakan promosi yang tidak obyektif, sikap atasan dan rekan kerja, situasi lingkungan kerja, keterbatasan fasilitas dan sebagainya akan dilihat dengan kaca mata positif. Persoalan keluarga pun dihadapinya dengan tegar melalui sikap dan solusi yang bijaksana. Orang dengan tipe optimis akan melihat berbagai persoalan sebuah ujian untuk bisa dilalui sekaligus sebagai anugerah dari Tuhan agar kita bisa semakin matang dalam hidup. Ingatlah, bahwa permasalahan pada dasarnya adalah cara pandang kita terhadap permasalahan itu sendiri. Ketika kita memandangnya dengan kaca mata negatif, maka hal-hal negatif akan menghampiri kita. Sebaliknya, ketika kita memandangnya dengan kaca mata posit, maka hal-hal yang positif akan menglilingi kita.

Mengutip pernyataan A. Nazhif (2007), bahwa benturan, himpitan, pembakaran dan goresanlah yang telah mengubah bongkahan batu tanpa harga menjadi permata. Begitu juga dalam kehidupan, benturan, himpitan, kepayahan, kepahitan dan kegagalanlah yang kan melahirkan karakter permata. Jika anda saat ini sedang terhimpit, merasa kepayahan, terjatuh dan mengalami benturan keras. Bersyukurlah... Tuhan telah memilih anda menjadi permata. Pribadi langka yang memancarkan keindahan. Optimislah!!!

(Infodok/Nk14).

 

 

 

Link Terkait