Inspirasi Yes #2 Dalam Apel Pagi (22/06/2015): Kisah Lukman Dan Puteranya Beserta Keledai Kurus

Lamongan-Infoda (22/06/2014). Satu minggu lebih kita telah memasuki bulan Ramadhan. Bagi PNS yang menjalankan ibadah puasa, tentunya hal tersebut tidak menjadi alasan kinerjanya menjadi menurun. Kinerja sendiri merupakan gabungan fungsi motivasi, kompetensi dan lingkungan. Oleh karena itu, persepsi kita dalam menyikapi kondisi lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap kinerja. Apalagi, dalam menjalankan tugas kedinasan sehari-hari, kita dihadapkan pada kondisi lingkungan yang kondusif atau tidak kondusif.

 

Berikut kami tuangkan sebuah cerita menarik yang penuh hikmah dalam menyikapi kondisi lingkungan tersebut, yang berdasar penyampaian Sekda Kabupaten Lamongan, YUHRONUR EFFENDI, S.E., M.M., MBA dalam kesempatan apel pagi tanggal 22 Juni 2015 di halaman Kantor Pemda Kabupaten Lamongan.

Luqmanul Hakim adalah tokoh sebagai contoh pendidik yang memiliki kebijaksanaan tinggi. Dalam kisah ini, Luqmanul Hakim ingin memberi pengajaran kepada putranya tentang ketetapan hati dalam pengambilan keputusan.

Pada suatu hari, Luqmanul Hakim mengajak anaknya untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai seekor keledai. "Wahai Anakku, naiklah kepunggung keledai, aku yang akan berjalan kaki menuntunnya", kata Luqmanul Hakim kepada Putranya. Ketika memasuki sebuah perkampungan, orang-orang yang melihatnya berkata, "Anak macam apa itu, dia sendiri di atas keledai sementara ayahnya yang tua dibiarkan berjalan kaki".

Mendengar itu, langkah keledaipun dipercepat hingga meninggalkan perkampungan itu. "Ayah, aku mendengar tadi orang-orang kampung mencibirku sebagai anak durhaka, karena membiarkan Engkau jalan kaki sementara aku diatas keledai. Biarlah, ayah di atas keledai dan aku berjalan kaki menuntunnya", pinta Putra Lukamnul Hakim.

“Baiklah kalau begitu Nak", kemudian Lukman naik keledai dan sang anak berjalan kaki menuntunnya. Selang beberapa saat, merekapun tiba disebuah kampung. Melihat kondisi demikian, orang-orang kampung berkata, "Aduuhh, sungguh ayah yang tidak punya perasaan. Anaknya berjalan kaki sedangkan dia di atas keledai. Ayah macam apa itu?"

Setelah melewati kampung kedua, Putra Luqmanul Hakim berkata pada Ayahnya, "Ayah, aku tidak suka mendengar orang-orang kampung menghina Engkau tadi. Apa tidak lebih baik kita berdua di atas keledai?"

"Baiklah kalau begitu Nak", kemudian merekapun berdua di atas punggung keledai berjalan hingga memasuki kampung ketiga dalam perjalanannya.

"Haii.. lihatlah, dua orang mengendarai seekor keledai kurus, apa mereka tidak punya rasa kasihan sedikitpun terhadap binatang?", sahut orang-orang kampung melihat kedatangan Luqmanul Hakim dan Anaknya.

"Ayah, orang-orang kampung membicarakan kita tidak punya belas kasihan terhadap binatang, lebih baik kita berdua tidak naik keledai. Biarkan kita jalan kaki saja sambil menuntun keledai", pinta anaknya.

"Baiklah kalau begitu Nak," kemudian Luqmanul Hakim berserta putranya meneruskan perjalanan sambil jalan kaki. Namun dipinggiran kampung, orang-orang melihat kondisi tersebut kembali mencibir, "Sungguh bodoh kedua orang ini, ada keledai tapi jalan kaki. kenapa tidak ditungganginya saja?"  Mendengar hal tersebut, Luqmanul Hakim mempercepat langkahnya hingga tiba di tepi hutan.

"Anakku, mari kita istirahat sejenak dibawah pohon itu", ajak Luqmanul Hakim. Setelah mereka berdua duduk di bawah pohon rindang, Luqmanul Hakim kemudian berkata kepada anaknya, "Anakku. Apa yang telah kita alami selama perjalanan ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Jika engkau mengikuti keinginan setiap orang, maka Engkau akan terombang-ambing dalam ketidakpastian. Engkau akan berbuat hanya demi menyenangkan hati kebanyakan orang tapi akan menyiksa dirimu sendiri.  Engkau akan hidup bagai daun-daun kering yang terbang tanpa tujuan mengikuti kehendak angin."

Sambil memeluk pundak anaknya, Luqmanul hakim berkata pelan melanjutkan, "Catat wahai anakku ... Engkau harus memiliki keyakinan kuat dan ketetapan hati dalam mengambil keputusan dalam hidup ini."

Demikianlah sepenggal cerita yang penuh hikmah dari perjalanan Luqmanul Hakim dan anaknya beserta keledai yang kurus. Dalam menjalankan tugas kedinasan sehari-hari, kita akan dihadapkan pada kondisi lingkungan yang dinamis. Kondisi tersebut bisa berupa persepsi atasan, perlakuan teman kerja, sarana dan prasarana sampai dengan aspek manajemen kepegawaian seperti pola karir, disiplin kerja, serta reward and punishment. Bagaimana pun kondisinya, kita harus senantiasa berkerja dengan keyakinan yang kuat dan ketetapan hati yang lurus. Niat ikhlas dan karakter yang kuat akan menumbuhkan motivasi tiada henti, demikian pula aspek kompetensi akan membimbing kita agar dapat menjalankan tugas-tugas kedinasan dengan baik dan benar. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari penggalan cerita di atas. Amin. (Infodok/Nk14)

 

Last modified onJumat, 26 Juni 2015 11:12

Link Terkait